Pages

Om Avighnam astu namo sidham Om Sidhirastu tad astu astu svaha. Ya Hyang Widhi, semoga atas perkenan-Mu tiada suatu halangan bagi kami memulai pekerjaan (kegiatan) ini dan semoga sukses.
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

ANGGAH UNGGUHIN BASA

SOR SINGGIH 

1.  Bahasa yang Digunakan Orang Bali
Bahasa Bali Kepara (modern, baru) merupaka bahasa Bali yang masih hidup dan terpakai dalam konteks komunikasi lisan dan tulis bagi masyarakat Bali sampai sekarang. Istilah bahasa Bali Kepara dalam bahasa Bali berarti ketah, lumbrah dan dalam bahasa Indonesia berarti umum. Kepara mengenal adanya tingkatan-tingkatan berbahasa yang disebut dengan “anggah-ungguhin basa” atau “sor-singgih basa”. Dalam anggah-ungguhing basa tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kelas yang sering disebut basa kasar, basa alus madia dan basa alus mider. Sedangkan untuk kata-kata yang digunakan di dalamnya dinamakan kruna mider (kata netral), kruna kasar, kruna alus madia, kruna alus sor, kruna alus mider dan kruna alus singgih.
Bahasa Bali kepara mengenal dua jenis ejaan yaitu ejaan dengan huruf Bali dan huruf latin. Penanaman bahasa Bali modern ini karena bahasa Bali kepara itu tetap berkembang pada zamanr modern seperi sekarang ini. Kehidupan dan perkembangan bahasa Bali modern yang juga merupakan sarana dan wahana kehidupan kebudayaan, agama, dan adat istiadat masyarakat etnis Bali yang berkelanjutan dari zaman ke zaman kerajaan, penjajahan, sampai zaman kemerdekaan termasuk zaman setelah kemerdekaan.  Bahasa Bali dalam perkembangannya sampai saat ini banyak mendapat pengaruh dari bahasa Sanskerta, bahasa Jawa Kuna, bahasa Melayu, Bahasa Arab, bahasa Prancis, bahasa Inggris, bahasa Sunda dan bahasa Lainnya.

2.  Mengapa Model Bahasa Seperi itu yang DIgunakan
 Bahasa Bali sampai memiliki tingkatan-tingkatan berbicara tidak bisa lepas dari sejarah pembentukannya. Pada mulanya bahasa yang digunakan di Bali tidak memiliki tingkatan-tingkatan berbicara seperti itu. Kemudian datang orang-orang Majapahit yang kemudian mulai mempengaruhi kebudayaan-kebudayaan di Bali. Terjadilah pergeseran kebudayaan besar-besaran pada saat itu. Wong Majapahit yang merupakan orang-orang yang berada dalam lingkungan kerajaan mulai mengelompokkan orang-orang Bali menjadi empat kasta atau wangsa yang sering disebut dengan caturwangsa. Adapun pembagian-pembagian golongan tersebut dikelompokkan kembali menjadi dua bagian yaitu triwangsa dan wangsa Jaba. Tri wangsa terdiri dari kaum Brahmana, Kesatria, dan Weisia. Catur wangsa yaitu pelapisan masyarakat secara tradisional di Bali sehingga terdapatlah bahasa Bali dalam ragam rendah pada golongan rendah pada golongan Jaba. Sebaliknya jika orang-orang golongan Jaba berbicara kepada golongan triwangsa diharapkan menggunakan bahasa Bali dengan ragam tinggi (alus).
            Namun ada pula orang Bali yang tidak menerima pengaruh dari Majapahit tersebut. Mereka kemudian mengungsi ke daerah-daerah melarikan diri dan bermukim di daerah-daerah pegnungan yang ada di Bali dan mempertahankan bahasa asli mereka yang dikenal dengan orang Bali Aga. Jadi secara regional bahasa bali kemudian dibagi menjadi dua ragam besar yaitu dialek pegunungan (Bali Aga) dan dialek Bali Dataran yang masing-masing memiliki subdialek. Dialek Bali Aga yang terdapat di Kabupaten Karangasem meliputi daerah Tenganan, Bugbug, Asak, Timrah dan Seraya. Yang berada di sekitar Danu Batur (kabupaten Bangli) meliputi daerah Kedisan, Trunyan, Songan, Pinggan, Siakin, Kintamani, dan Sukawana. Yang terdapat di kabupaten Badung meliputi daerah Seminyak dan Tihingan. Daerah Tabanan meliputi daerah Belimbing, Bantiran, Sanda, Pandangan, Pujungan, Batungsel dan Wangaya. Daerah Kabupaten Buleleng meliputi Sembiran, Sepang, Tigawasa, Sidatapa, dan Cempaga.

3.  Orang-Orang yang Mengguanakan Bahasa Bali
      Penggunaan bahasa Bali ini sama seperti bahasa Indonesia, akan tetapi dalam bahasa Bali mempunyai tingkatan-tingkatan yang digunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang dari wangsa yang bebeda. Tingkatan-tingkatan berbahasa tersebut dapat dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu Basa Alus, Basa Madia, dan basa Kasar
Tingkatan-tingkatan tersebut digunakan pada saat berbicara dengan orang-orang dari kalangan yang berbeda-beda.
1.    Basa Alus
a.       Bahasa Alus digunakan pada saat ngastawa Ida Sang Hyang Widhi, misalnya:
-          “Ratu Sang Hyang Widhi, titian ngaturang bakti”.
-          “Ratu Sang Hyang Paramawisesa, Sang sane ngawisesayang sarwa mauripe rauhing sane tan maurip maka sami, durus bancut jiwan titiange mangkin”.
b.       Diucapkan pada saat berbicara dengan Guru Loka (Sulinggih, Nabe, Guru pangajian/guru di sekolah), misalnya:
-          “Majeng ring Sang Rumaga Dosen, para guru lan Sang Rumaga Acarya seosan, titian nunas ring Sang inonek mangda ledang ngambil linggih genah sane sampun cumawis!”.
c.       Digunakan pada saat mengikuti pemerintah, misalnya:
-          Palungguh Bapak Gubernur, Sang Rumaga Manggala Praja Jagat Bali sane dahat baktinin titiang. Titiang nglungsur gung ampura, antuk kakirangan titiang sajeroning nyanggra lan nyambrama sapangrauh Bapak saha parampean sinamian”
d.       Digunakan pada saat berkomunikasi dengan para sesepuh Pakraman, Dinas, orang-orang yang lebih tua dalam padubugan di masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat, misalnya:
-          “mantuk ring Jero Bendesa Pakraman………… titiang angayu bagia, riantuk Jerone sampun sida tedun ring genah titiang puniki”’
e.       Digunakan pada saat berbicara di pertemuan-pertemuan, misalnya:
-          “Inggih para Semeton sinamian sane wangiang titiang, nawegang titiang matur sisip antuk kasep titiang rauh mangkin”
f.        Digunakan untuk berbicara dengan orang yang beru di kenal.

2.    Basa Madia
Basa Madia ini umumnya digunakan pada lingkungan keluarga. Pada saat berkumpul dengan keluarga seperti: berbicara kepada anak, suami, dan saudara-saudara lainnya. Contoh:
-          “ Memene , dinane buin mani semengan, beli luas ka gunung, nyaan sediaang beli  bekel saadane”
-          “ Nah beli, tiang tuara ja bani tempal kapin pamunyin Beline”.

3.    Basa Kasar
Basa Kasar merupakan kata yang umum digunakan oleh masyarakat Bali untuk menunjukkan sesuatu pada binatang. Demikian pula pada saat marah. Biasanya saat marah orang akan mengeluarkan kata-kata kasar saat berbicara ataupun saat berkelahi/adu mulut. Contoh:
-          “ Apa buin ane tagih amah Iba, buka kene amah-amahan Ibane, Ibane tusing dadi baan Iba ngelekang!”
Tata karma berbicara tersebut merupakan ciri dalam beretika dan bersopan santun dalam kehidupan masyarakat. Tingkatan-tingkatan berbahasa ada pula yang disebut dengan “rasaning basa”  yang digolongkan kembali menjadi tiga bagian yaitu:
a.       Basa Alus Singgih
Basa Alus Singgih merupakan bahasa yang digunakan pada saat berbicara dengan orang yang patut dihormati. Misalnya:
-          “ Sapemadegan Palunguh I Ratu nenten wenten purun sane nguragada”
-          “ Titiang nglungsur lingga tangan I Ratu, ledangan picayang sane mangkin”.

b.       Basa Alus Mider
Basa Alus Mider merupakan bahasa alus yang digunakan kepada orang-orang yang berada di bawah atau orang yang berada di atas atau bahasa yang memuat rasa meninggikan orang yang patut ditinggikan. Misalnya:
-          “Titiang wawu rauh saking pasar!”.
-          “ Ida yukti lali ring dewek titian?”
-          “Bapak guru nibakang pamatut ring sang iwang”

c.       Basa Alus Sor
Basa Alus Sor merupakan bahasa yang diucapkan digunakan di bawah, oleh orang yang merendahkan diri. Misalnya:
-          “ Titiang madrebe pianak wantah kalih diri, ipun sampun masekolah ring SMA”
-          “ Titiang ngantenang gunung punika saking dunungan titiang”
-          “ Pawehwehin ipun reraman titiangwantah akidik”
4. Mengapa Terjadi  Bahasa yang Berkelas-Kelas
     Seperti yang telah diketahui bahwa bahasa  Indonesia berasal dari berbagaii bahasa daerah. Diantara kelompok-kelompok bahasa daerah yang ada di Indonesia, ada empat bahasa daerah yang memiliki tingkatan-tingkatan bahasa yaitu bahasa Madura, bahasa Jawa, bahasa Sunda dan bahasa Bali. Diantara keempat daerah itu bahasa Bali yang memiliki tingkatan-tingkatan bahasa yang tingkat kerumitannya paling tinggi yang disebut anggah-ungguhing Basa Bali yang disebabkan berdasarkan pelapisan masyarakat yang tradisional maupun lapisan masyrakat yang modern.
Sehubungan dengan itu untuk mengetahui tingkat-tingkatan dalam berbicara yang akan dipilih haruslah diketahui latar belakang faktor social budaya orang Bali yang merupakan faktor terpenting dalam menentukan pilihan tersebut. Dan yang dimaksud dengan factor social ini tidak lain adalah struktur masyarakat Bali dewasa ini baik secara tradisional maupun secara modern. Struktur tradisional disini maksudnya adalah struktur masyarakat Bali berdasarkan pada system wangsa atau kasta yang dijadikan pedoman untuk mengukur tinggi rendah kedudukan seseorang menurut kelahiran atau keturunannya.
Akibat kemajuan zaman, munculnya elite-elite baru (masyarakat kelas atas) mengakibatkan terjadinya pergeseran dalam system pemakaian sor-singgih. Masyarakat kelas terutama yang memegang jabatan formal, ekonomi kelas atas selalu mendapat penghormatan dari masyarakat kelas bawah, seperti sopir, buruh walaupun mereka berasal dari wangsa Brahmana, tetapi untuk saat ini tidak berlaku lagi. Saat ini tidak lagi melihat kasta. Hal ini tercermin pula dalam interaksi verbal. Masyarkat kelas bawah berbicara kepada kelas atas berkecenderungan menggunakan bahasa Bali ragam tinggi.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa factor sosiallah yang pertama menentukan pimilihan pemakaian bahasa yang berkelas seperti itu. Apabila orang yang diajak berbicara itu sama status dan umurnya maka biasanya dipakai bentuk kasar, tetapi apabila orang yang diajak berbicara tidak sama statusnya maka dipilihlah bentuk hormat. Bentuk hormat ini juga bisa digunakan untuk orang asing atau orang yang belum dikenal.

5. Eksistensi penggunaan bahasa yang bertingkat pada era masa kini
                 Bahasa Bali sebagai bahasa ibu sebagian besar etnis Bali memiliku kedudukan dan fungsi yang amat penting. Interaksi verbal keseharian (terutama dalam keluarga) etnis Bali  selalu didominasi oleh pemakaian bahasa Bali, lebih-lebih lagi dalam topik-topik pembicaraan yang bersifat tradisional, seperti membicarakan masalah adat, kebudayaan, dan agama (Hindu). Makin formal pembicaraan yang terjadi dalam keluarga, makin tinggi pula intensitas pemakaian bahasa Balinya. Dalam rapat keluarga, pembicaraan rencana ngaben dan menikah misalnya, masih dominan digunakan bahasa Bali. Sebaliknya, makin santai situasi pembicaraan, lebih-lebih lagi topic yang dibicarakan mengarah ke topic modern, intensitas penggunaan bahasa Bali akan menurun dan munculah pemakaian bahasa campuran.
Hal ini secara jelas dapat dirasakan, betapa masyarakat Bali kelihatan adanya penurunan hadap pemahaman dan kurangnya menghargai kekayaan makna dan nilai yang terkandung dalam budaya tradisi tersebut. Bahkan dalam penggunan ungkapan-ungkapan tradisional, betapa dalam dan tulusnya kandungan budaya sebagai jelmaan hati nurani, tidak tertangkap seutuhnya. Sikap demikian, tidak saja terjadi dalam masyarakat biasa tetapi, terjadi pula pada kaum elite sebagai pewaris budaya dan pemilik bahasa Bali. Selain itu, keberadaan masyarakat etnik Bali dengan bahasa Balinya dalam konteks berbangsa dan bernegara di daerah provinsi Bali sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melalui Undang-Undang Dasar 1945 telah ditetapkan bahwa bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa Negara dan sekaligus sebagai pengikat dan pemersatu bangsa Indonesia. Penetapan ini telah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi. Akibatnya masyarakat etnik Bali dalam pergaulan hidupnya sehari-hari disamping menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa pengantar, juga menggunakan bahasa Indoesia.
Pada awalnya kedua bahasa ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda dalam komunikasi masyarakat etnik bali (sebagai masyarakat yang diglosik). Namun dalam perkembangannya, sedikit demi sedikit diglosia itu mengalami degradasi akibat berbagai factor. Akibatnya, penggunaan bahasa Bali secara perlahan-lahan disusupi oleh unsure-unsur bahasa Indonesia. Kemudian sejumlah fungsi yang semula dijalankan oleh bahasa Bali, berubah dan dijalankan oleh bahasa Indonesia, seperti dalam kegiatan keluarga, interetnik, adat, agama, dan sebagainya (hal ini tentu tidak sejalan dengan rekomendasi Kongres Bahasa Bali V tahun 2001), yang merekomendasikan agar fungsi-fungsi bahasa Bali dipertahankan pada ranah-ranah pemakaiannya (untuk kepentingan dalam keluarga, interetnik, adat, agama, dsb) sebagaimana juda dimuat dalam rubric harian Bali Post tanggal 17 November 2001.
Karena pengaruh modern yang telah masuk ke dalam masyarakat Bali baik secara vertical dan horizontal, telah muncul kelas social baru yang asalnya tidak dari golongan triwangsa. Golongan baru ini merobah pemekaian kaidah berbahasa secara tradisional itu sehingga pada suatu ketika menimbulkan pertentangan di dalam masyarakat Bali. Oleh karena pengaruh modernisasi itu tidak dapat dibendung dan dihalang-halangi maka terjadilah perobahan tentang pemakaian tingkat-tingkatan berbicara terutama pada kalangan pergaulan.golongan modern.
Hal ini Nampak tidak dipakainya lagi kata serapan bentuk hormat ratu, atu lalu dialihkan dengan meminjam kata-kata dari bahasa Indonesia yang dianggap sebagai kata netral yang tidak membedakan tinggi rendah wangsa seseorang seperti kata Bapak atau Ibu.

DAFTAR PUSTAKA


Gautama, Wayan Budha. 2005. “Tata Sukerta Basa Bali”. Denpasar. CV.KAYUMASAGUNG.

Jendra, Wayan DKK. 1975. “Sebuah Deskripsi tentang Latar Belakang Sosial Budaya Bahasa Bali”. Denpasar. Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suasta, Ida Bagus Made. 2004. “Sejarah Kajian Bahasa Bali”. Denpasar. Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Udayana.

               . 2005.” Imba Mabebaosan Nganggen Basa Bali”. Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Tinggen, I Nengah. 1984. “Tata Basa Bali” . Singaraja: Percetakan Eka Cipta.

Bawa, I Wayan DKK. 1984. “Studi Sejarah Bahasa Bali”. Denpasar. Universitas Udayana.

Tinggen, I Nengah. 1986. “ Sor Singgih Basa Bali”. Singaraja: Percetakan Eka Cipta

               . 2006.” Tata Basa Bali”. Denpasar. Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Badan Pembina Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali Provinsi Bali.

               . 1996.” Tata Bahasa Baku Bahasa Bali”. Denpasar. Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Bali.

Putra Suarjana, I Nyoman. 2007.  “ Sor-Singgih Basa Bali dalam Dharma Papadikan, Pidarta, Sambrama Wacana dan Dharma Wacana”. Denpasar.

Selanturnyane - ANGGAH UNGGUHIN BASA
Category: 1 komentar

Dialek Bahasa Bali Dataran

Bali merupakan suatu kepulauan yang banyak memiliki tradisi. Beragam-ragam kebudayaan yang dimiliki. Salah satu yang dimiliki masyarakat Bali adalah ragam-ragam dialek berbahasa di setiap wilayah yang ada di Bali. Salah satunya adalah dialek bahasa Bali dataran.
Secara letak geografis, dialek bahasa Bali dataran memeang berada pada bagian pulau Bali di bagian yang datar, bagian pesisir. Oleh karena itu untuk memudahkan penyebutannya disebut dialek bahasa Bali dataran (DBD).
Pendukung atau penutur bahasa Bali dialek dataran jauh lebih banyak dibandingkan dengan pendukung atau penutur bahasa Bali dialek Bali aga, yang diperkirakan meliputi dua juta lebih, sedangkan penutur dialek Bali aga diperkirakan sekitar puluhan ribu saja.
Daerah persebarannya pun dialek bahasa Bali dataran jauh lebih luas meliputi bagian pesisir dari kabupaten-kabupaten yang ada di Bali.
1.      1. Dialek Bahasa Bali Dataran
Dialek Bahasa Bali Dataran ini dapat pula dibagi menjadi variasi dialektis yang lebih kecil, yang pada umumnya hasil pembagian ini sejajar dengan hasil pembagian Daerah Tingkat I Propinsi Bali menjadi delapan daerah tinkat II kabupaten secara administrasi. Artinya secara dialek pun Bahasa Bali Dataran ini dapat dibagi menjadi delapan variasi dialek yang batas-batasannya dianggap sama dengan batas daerah kabupaten. Sebenarnya sudah disadari bahwa batas dialek sulit ditentukan dengan pasti. Batasan dialek yang satu dengan yang lain saling menyelusupi, sehingga terjadi batas yang kabur.
Walaupun disadari adanya batas yang sulit ditentukan secara pasti itu, tetapi untuk kepentingan analisa selanjutnya batas administrasi kabupaten itu akan dipakai sebagai landasan kerja dalam pembicaraan dialek ini.
Dialek Buleleng, Karangasem, Klungkung, dan Bangli memiliki persamaan dalam ciri-ciri pembentukan proses morfologis, terutama dalam imbuhan (affixes). Tetapi ciri-ciri unsur lagu bicara (cirri-ciri prosodi) agak berlainan sedikit.
Dialek Badung, Gianyar, dan Tabanan juga memiliki persamaan dalam bidang imbuhan (affixes) sehingga menimbulkan pula persamaan dalam proses afiksasi. Perbedaannya juga terdapat dalam unsur lagu bicara (ciri-ciri prosodi) dan sedikit pada jumlah kosa kata masing-masing dialek.
Dialek Jembrana memiliki tempat tersendiri, yang sulit di golongkan ke dalam dua golongan dialek yang telah dikelompokkan di atas.


2.       2. Perbedaan Dialek Buleleng/Klungkung (BB Baku) dengan Dialek Badung
a.           Proses afiksasi dengan sufik –in sebagai pembentuk kata kerja pasif    
Morfem dasar
Morfem terikat
Dialek Buleleng
Dialek Badung
Artinya dalam BI
/orah/
-in
/orahin/
/orin/
‘Beritahu’
/ajah/
-in
/ajahin/
/ajin/
‘Ajari’
/ambah/
-in
/ambahin/
/ambin/
‘Jalani’
/umbah/
-in
/umbahin/
/umbin/
‘Cucikan’
/kənə/
-in
/kənain/
/kənin/
‘Kenai’
/təkə/
-in
/təkain/
/təkin/
‘Datangi’
Proses afiksasi dengan sufik {-in} dalam dialek Buleleng tidak    mengalami perubahan bentuk. Sedangkan dalam dialek Badung, bila suatu kata dasar yang berakhir dengan –a/ah mendapat sufik {-in}, maka –a/ah itu akan luluh (hilang) sehingga {-in} langsung melekat pada dasar dengan kehilangan unsur –a/ah-nya tersebut.
b.      Proses afiksasi dengan sufik {-ang} sebagai pembentuk kata kerja dalam dialek Buleleng, pada dialek Badung didapati dengan sufik {-an}
Contoh :
Ø Dialek Buleleng : # /jəmakaṇ bajune ənto/ # ‘ambilkan baju itu’
Ø Dialek Badung : # /jəmakaṇ baju ənto/ # ‘ambilkan baju itu’

c.       Proses afiksasi dengan sufik {-ne} sebagai pembentuk kata benda yang tertentu (definite) dalam dialek Buleleng, dalam dialek Badung didapati dalam bentuk {ə} atau kadang-kadang sama sekali tak berimbuhan,
Contoh :
Ø Dialek Buleleng : # /mejane ənto abanə mulih/ # ‘meja itu dibawa pulang’
Ø Dialek Badung : # / mejə (ə) ənto abə (ə) mulih/ # ‘meja itu dibawa pulang’

d.       Proses afiksasi dengan sufik {-ə} sebagai pembentuk kata kerja pasif dalam   dialek Buleleng, dalam dialek Badung didapati dalam bentuk {-ə} dengan tanpa bentuk alomorf {-nə}, atau kadang-kadang tidak muncul sama sekali.

e.          Dalam bidang intonasi antara dialek Buleleng dengan dialek Badung juga menunjukan perbedaan. Banyak orang mengatakan cara pengucapan orang-orang dari daerah Buleleng dianggap “lebih keras” dibandingkan dengandialek Badung yang dianggap “lebih lembut”. Oleh karena itu perbedaan unsure intonasi tersebut terletak pada tekanan dinamiknya.

2.  3. Perbedaan Antara Dialek Kelungkung/Buleleng sebagai BBB dengan Dialek Gianyar
Dialek Gianyar ini banyak memiliki persamaan dengan dialek Badung dalam bidang imbuhan.
a.          Proses afiksasi dengan sufik {-in}
Morfem dasar
Sufik
Dialek Buleleng
Dialek Gianyar
Bahasa Indonesia
/kena/
-in
/kenain/
/kenein/
‘kenai’
/ajah/
-in
/ajahin/
/ajin/
‘ajari’
/orah/
-in
/orahin/
/orin/
‘beritahu’
/benah/
-in
/benahin/
/benin/
‘perbaiki’
Melihat contoh-contoh diatas jelas bahwa dialek Badung dalam pembubuhan sufik{-in} pada morfem dasar (proses afiksasi sufik {-in}) mirip dengan dialek Gianyar. Cuma pada dialek Gianyar morfem dasar yang berakh dengan bunyi –a/ah bila diberi sufik {-in} kadang-kadang terdengar {-ein}, kadang-kadang {-in}, dengan kehilangan unsure bunyi –a/ah pada morfem dasar.
b.      Proses afiksasi dengan sufik {-ang}
Proses afiksasi dengan sufik {-ang} dalam dialek Gianyar juga mirib dengan dialek Badung, hanya saja dalam dialek Gianyar kadang-kadang muncul kadang-kadang tidak. Perwujudannya baik di Badung maupun di Gianyar dalam bentuk –an sedang dalam bentuk BBB selalu berbentuk –ang sebagai sufik pembentuk kata kerja yang berarti “mengerjakan pekerjaan untuk orang lain”.
Contoh :
Ø Dialek Buleleng # /jəmakaṇ bajune ənto/ # ‘ambilkan baju itu’
Ø Dialek Gianyar  # /jəmakan baju toto/ # ‘ambilkan baju itu’

c.       Proses afiksasi dengan sufik {-ne} sebagai pembentuk kata benda tertentu (definite) mirip dengan dialek Badung.
Contoh :
Ø Dialek Buleleng : # /bajune ənto barak/ # ‘baju itu merah’
Ø Dialek Gianyar : # /baju (ə) to barak/ # ‘baju itu merah’

d.      Proses afiksasi dengan sufik {-ə} sebagai bentuk kerja pasif.
Dalam dialek Buleleng (BBB) mempunyai alomorf {-nə} bila mengikuti morfem dasar yang berakhir dengan vokal (bukan tertutup konsonan).
Dalam dialek Gianyar, begitu juga dengan dialek Badung, sufik {-ə} itu kadang-kadang muncul, kadang-kadang tidak. Kalaupun muncul tidak pernah punya alomorf /-nə/ seperti BBB.
Ø Dialek Buleleng : # /mejane ənto abanə mulih/ # ‘meja itu dibawa pulang’
Ø Dialek Gianyar : # /mejə (ə) to abə (ə) mulih/ # ‘meja itu dibawa pulang’

e.       Proses afiksasi dengan sufik {-an} sebagai bentuk kata benda yang menyatakan lebih.
Dalam dialek Buleleng (BBB) sufik {-an} itu mempunyai alomorf /-nəṇ/ bila mengikuti morfem dasar yang berakhir dengan vocal.
Dalam dialek Gianyar, sufik itu muncul dalam bentuk {-əṇ} dengan tekanan yang lemah pada suku kata akhir, dengan bentuk alomorf /-nəṇ/ bila mengikuti morfem dasar yang berakhir dengan vocal.
Contoh :
Ø Dialek Buleleng (BBB) : # /barakan buṇane ənto təken ne/ # ‘lebih merah bunga itu dibandingkan ini’
Ø Dialek Gianyar : # /barak’əṇ buṇə (ə) to ken ne/ # ‘lebih merah bunga itu dibandingkan ini’

f.       Perbedaan dalam tekanan dan intonasi.
Dalam dialek Buleleng (BBB), dialek Gianyar dan dialek lainnya, tekanan tidak bersifat fonemis (tidak membedakan arti).
Dalam dialek Buleleng (BBB) tekanan jatuh pada suku akhir, baik kata yang dua suku maupun yang tiga suku kata. Tetapi dalam dialek Gianyar kata-kata yang terdiri dari tiga suku kata tekanan terletak pada suku kedua

2.      4. Bentuk Dialek Jembrana
Dialek Jembrana memiliki tempat tersendiri, yang sulit di golongkan ke dalam dua golongan dialek yang telah dikelompokkan di atas. Perbedaaan cirri khusus dialek ini adalah terletak pada kesamaran hadirnya fonem konsonan, terutama fonem konsonan /n/ pada distribusi akhir. Kata [peṇkolan] ‘tikungan’, dialek Buleleng dan dialek daerah lain, bagi dialek Jembrana diucapkan [peṇkola] ‘tikungan’. Kata [macaplagan] ‘tubrukan’, dialek Buleleng dan dialek lainnya, bagi dialek Jembrana [məcaplaga] ‘tubrukan’.
Selanturnyane - Dialek Bahasa Bali Dataran
Category: 7 komentar
Om Pra no devi sarasvati vajebhir vajinivati dhinam avinyavantu. (Rg Veda VI.61.4) Ya Hyang Widhi, Hyang Saraswati Yang Maha Agung dan Kuasa, Engkau sebagai sumber ilmu pengetahuan, semoga Engkau memelihara kecerdasan kami.

Followers